KETEGUHAN HATI SAAT DIRAGUKAN
Dipublikasikan pada 07 Juli 2024
4 min baca

Bacaan: Markus 6:1-13

Markus 6:4b “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri,

di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.”

Setiap orang pasti pernah mengalami penolakan, misalnya orang tua menolak permintaan anaknya ketika ingin dibelikan mainan, cinta yang ditolak, pengajuan skripsi atau tesis yang ditolak oleh dosen pembimbing, tidak diterima kerja saat wawancara, dan contoh-contoh lainnya. Dan terkadang penolakan pun terjadi di dalam pelayanan. Gagasan dan ide-ide baru kadang diragukan karena belum pernah dibuktikan. Serta akhir-akhir ini pun pemberitaan tentang penolakan ibadah di rumah-rumah semakin santer diberitakan di media-media.

Bagaimana perasaan Saudara ketika mendapatkan penolakan? Sedih, kecewa dan marah adalah reaksi umum yang terjadi. Tergantung juga bagaimana cara penolakan yang diterima. Bisa lembut, atau pun kasar. Tetapi di luar itu, tetaplah penolakan merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penolakan yang terjadi terus menerus akan membuat semangat susut, dan kehilangan kepercayaan diri. Dan yang paling menyakitkan adalah ketika ditolak tanpa alasan yang jelas, padahal sudah melakukan sesuatu yang menurut kita baik.

Bacaan Alkitab hari ini menyatakan bahwa Tuhan Yesus juga pernah ditolak orang-orang di kampung-Nya sendiri, di Nazareth. Tidak terlalu jelas alasan yang menyebabkan mereka menolak Dia. Hanya dikatakan bahwa ketika la mengajar di rumah ibadat, lalu seluruh jemaat takjub mendengar ajaran-Nya, kemudian mereka mencari tahu tentang asal usul Yesus. Pada saat itulah, mereka mengenal ibu dan saudara-saudara-Nya, laki-laki dan perempuan, hanya sebagai orang-orang biasa. Tampak jelas bahwa orang-orang Nazareth kecewa terhadap Yesus karena Ia melakukan hal-hal ajaib, sementara statusnya hanyalah seorang tukang kayu.

Yesus tidak sedih, kecewa dan marah terhadap orang-orang Nazareth. Ia sadar bahwa jika terjadi kepada salah seorang nabi maka akan terjadi juga kepada diri-Nya. Bahwa banyak nabi yang diutus Tuhan untuk mengingatkan kaum dan bangsanya tentang hukuman yang akan datang atas mereka, tetapi mereka menolaknya karena tidak percaya kepadanya. Mereka lebih percaya dan menghormati nabi-nabi lain yang datang untuk menubuatkan hal-hal yang baik tentang mereka. Itu sebabnya Yesus mengatakan, “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” (ay 5).

Giliran para murid mempraktikkan apa yang mereka lihat dan pelajari dari Yesus. Mereka diutus berdua-dua supaya saling menopang satu sama lainnya dan menjadi rekan handal dalam pelayanan. Mereka diajar untuk bergantung pada kuasa yang Tuhan Yesus berikan dan tidak mengandalkan diri sendiri ataupun materi dan fasilitas. Mereka belajar fokus pada tugas mereka, yaitu memberitakan pertobatan, mengusir roh-roh jahat, dan menyembuhkan orang sakit (12-13). Fokus pada tugas mereka juga berarti, saat terjadi penolakan mereka tidak perlu reaktif mengotot melainkan memberikan tanda peringatan dengan mengebaskan debu di kaki.

Ditolak memang tidak enak. Semangat bisa redup, sukacita jadi hilang, dan rasanya ingin menyerah. Akan tetapi, penolakan bisa menjadi cambuk untuk lebih mengandalkan Tuhan dan kuasa-Nya. Bisa jadi penolakan terjadi karena kita kurang bijaksana dalam memaparkan kabar baik, terlalu mengandalkan akal budi dan hal-hal yang ada pada kita, bukan pada hikmat dan kuasa-Nya.

Pdt. Timothy Setiawan

Bagikan
Artikel Lainnya
Lihat Artikel Lainnya
12 Orang Membaca