KATA-KATA PERJANJIAN
Dipublikasikan pada 02 Maret 2025
4 min baca

Bacaan: Keluaran 34: 28-35

Minggu Transfigurasi dirayakan oleh gereja sebelum memasuki Minggu-minggu Prapaskah. Pada perayaan Minggu Transfigurasi, kita mengingat kembali peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung, yang menurut kesaksian Lukas terjadi “kira-kira delapan hari” (Luk.9:28) sesudah Yesus memberitahukan bahwa Anak Manusia akan menderita, dibunuh dan dibangkitkan pada hari yang ketiga. Dalam peristiwa Transfigurasi ini, kedua nabi besar dicatat oleh Injil Lukas “terlihat dalam kemuliaan dan berbicara tentang kepergian-Nya di Yerusalem” (Luk.9:31). Hanya Injil Lukas yang mencatat tentang pembicaraan Yesus dengan Musa dan Elia yang menunjuk pada penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya yang akan digenapi dengan perjalanan-Nya di Yerusalem. Hanya saja, peristiwa percakapan Yesus bersama Musa dan Elia ini tidak diketahui oleh Petrus dan teman-temannya. Mereka tertidur dan terbangun ketika percakapan itu telah usai. Namun, mereka masih melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya bersama dengan Musa dan Elia berdiri di dekat-Nya.

Musa sendiri pernah “mengalami peristiwa dimuliakan”, yaitu pada saat ia mengalami perubahan muka setelah ia berjumpa dengan Tuhan di atas gunung Sinai. “Musa berada di sana bersama TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya. Ia tidak makan roti maupun minum air. Ia menulis pada loh-loh itu kata-kata perjanjian, Kesepuluh Firman. Lalu Musa turun dari Gunung Sinai dengan kedua loh hukum di tangannya. Ketika turun dari gunung itu, ia tidak menyadari bahwa kulit wajahnya bercahaya oeleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN”. Perjumpaan pribadi dengan TUHAN selalu menghasilkan perubahan rohani. Alkitab begitu banyak memberikan contoh orang-orang yang bertemu Tuhan dan mereka mengalami perubahan rohani. Perubahan inilah yang kita temukan pada diri Zakheus si kepala pemungut cukai, Saulus si penganiaya pengikut Tuhan, dan yang lainnya. Sisi menariknya adalah bahwa mereka tidak hanya berhenti pada perubahan rohani, tetapi dibuktikan juga dengan perubahan dalam perilaku hidup sehari-hari.

Musa pun mengalami fase itu. Musa berjumpa secara pribadi dengan Tuhan di Gunung Sinai. Selama itu, ia berpuasa. Dampak dari perjumpaan itu ialah terpancarnya kemilau kemuliaan Tuhan pada wajahnya. Namun tidak hanya berhenti di situ, Musa pun diubahkan Tuhan dalam perilaku hidup sehari-harinya. Ia yang dulu dikenal rendah diri dan penakut, kini mempunyai keberanian besar untuk menyampaikan kata-kata perjanjian, yaitu Kesepuluh Firman kepada umat Israel untuk ditaati. Jika dulu ia harus diwakili oleh Harun sebagai juru bicaranya, kini Musa sendirilah yang menjadi perantara antara Allah dan umat-Nya.

Tentu saja, ada banyak cara Tuhan menjumpai umat-Nya, namun dampak perubahan pada intinya sama yaitu kemuliaan Tuhan yang terpancar melalui dirinya dan itu dilihat dan dirasakan oleh sesama. Pada konteks bacaan kita, kemuliaan yang Musa terima di atas gunung, ia bawa turun kepada umat. Ia memberikan kata-kata perjanjian sebagai penuntun umat dalam menjalani kehidupan. Di atas dasar dan tuntunan kata-kata perjanjian, umat dipanggil untuk hidup menurut Hukum yang terutama, yaitu hidup dalam relasi kasih yang benar. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat.22:37-39). Dengan demikian, umat dipanggil dan ditugasi untuk memacarkan kemuliaan Tuhan melalui kata dan karya kasih. P3K (Pancarkan kata dan karya kasih). Amin.

Bagikan
Artikel Lainnya
Lihat Artikel Lainnya
6 Orang Membaca