BERTOPENG PEDULI
Dipublikasikan pada 03 April 2023
2 min baca

Bacaan: Yohanes 12:1-11

Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.

(Yoh. 12:6).

“Ini semua untuk kesejahteraan orang miskin!” Ungkapan seperti ini sering kita dengar dari beberapa pejabat atau orang-orang tertentu yang bertopeng peduli. Padahal, realitanya adalah untuk kepentingan pribadi. Dalam kehidupan berjemaat, kita pun tak jarang mendengar ungkapan: “Demi kemuliaan nama Tuhan” atau “Untuk kebaikan anggota jemaat.” Topeng peduli digunakan sebagai strategi agar pikiran atau rencana pribadi dapat didukung oleh banyak orang.

Keluarga Lazarus bersukacita karena Lazarus hidup kembali. Karena itu, diadakanlah perjamuan ucapan syukur dengan mengundang Yesus. Di tengah perjamuan itu, Maria mengambil minyak narwastu yang mahal harganya. Ia meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya. Namun, Yudas Iskariot menegur Maria dengan mengatakan bahwa minyak narwastu ini dapat dijual 300 dinar dan diberikan kepada orang-orang miskin. Nilai 300 dinar adalah upah 1 tahun bekerja. Namun, apakah benar motif Yudas Iskariot adalah peduli kepada orang-orang miskin? Injil justru mencatat bahwa Yudas Iskariot sering mengambil uang yang disimpan dalam kas (Yoh. 12:6).

Bertopeng peduli bukan sekadar kemunafikan, melainkan juga penipuan. Sebab, ungkapan saleh, nama Tuhan dan kesejahteraan sesama digunakan untuk mengeruk keuntungan finansial. Sesungguhnya, setiap umat percaya dipanggil untuk menguji segala sesuatu, khususnya menguji dirinya sendiri (bdk. Gal. 4:8). Kita harus senantiasa waspada terhadap kecenderungan untuk bertopeng peduli.

DOA:

Ya Roh Kudus mampukanlah kami menguji diri sendiri agar kami selalu cermat dari kecenderungan untuk bertopeng peduli.

Kategori
Bagikan
Artikel Lainnya
Lihat Artikel Lainnya
10 Orang Membaca